Senin, 29 Juli 2013

"Krisis Ekonomi yang Membelit"


"Krisis Ekonomi yang Membelit"


Tantangan yang sedang dihadapi dunia luar biasa. Hampir satu dari lima penduduk dunia (termasuk Indonesia), atau sekitar 1,5 miliar manusia hidup di bawah kemiskinan dan kesenjangan pendidikan ekstrem dengan standar hidup sekitar satu dollar AS (Rp. 9.700)per hari bahkan bisa mencapai per minggu. tidak kurang dari 850 juta manusia, umumnya yang hidup di kawasan beberapa negara (benua) seperti Afrika dan Asia, mengalami kelangkaan pangan dan pendidikan, dan 500 juta manusia terancam kelaparan, kekurangan gizi, serta hilangnya kwalitas hidup, yang menyebabkan berkurangnya angka harapan hidup.






Memang dunia sudah dapat merasakan dampak dari semua ini sehingga himpunan-himpunan negara yang ada di dunia menggali masukan dan rekomendasi mengenai strategi pembangunan dunia khususnya setelah Tujuan Pembangunan Milenium atau MDGs. sekalipun program MDGs sejak tahun 2000 mencatat banyak kemajuan, antara lain dalam upaya mengurangi kemiskinan dan memperbaiki pendidikan, persoalan dunia tetaplah menumpuk setelah tahun 2015 (berakhirnya program MDGs). Sekitar 175 juta anak balita masih menderita kekurangan gizi. Sebanyak 100 juta anak tidak menikmati pendidikan dasar bahkan diperkirakan 150 juta orang tidak pernah sama sekali mengenyam pendidikan yang layak. Banyak yang yang mati muda, angka kematian anak balita mencapai 26.000 setiap harinya, dan kematian ibu melahirkan mencapai 500.000 per tahun. Ini semua yang menyebabkan berkurangnya angka harapan hidup.

Dalam menghadapi semua persoalan rumit itu tidak dapat dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga dunia saja melainkan harus di dukung dengan kepedulian dari diri kita sendiri, memang semua itu juga harus dibantu oleh pemerintah dan lrmbaga-lembaga dunia lainnya. Semua masalah rumit itupun juga menjadi catatan penting bagi tokoh dunia yang tergabung dalam Panel Tinggi Penyusun Program Pasca MDGs 2015 (HLM-High Level Panel on Post 2015) yang diharapkan mampu merumuskan program pembangunan dunia, terutama untuk mengatasi kemiskina, kelaparan, dan angka harapan hidup pasca tahun 2015.

Kitapun seharusnya sebagai bangsa indonesia juga harus berbangga karena Panel Tinggi yang dibentuk oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-monn, Juli 2012, ini diketuai bersama oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf. Adapun 24 anggota Panel berasal dari kalangan pemerintahan, bisnis, dan tokoh masyarakat yang mau turun langsung dan mempunyai perhatian terhadap agenda pembangunan global.

Tokoh dunia itu antara lain, Ratu Rania dari Jordania, manta Presiden Jerman Horst Kohler, Menteri Keuangan Timor Leste Emilia Pires, Menteri Luar Negeri Mexico Patricia Espinosa, wartawati dan aktivis hak asasi Tawakel Karman dari Yaman, manta Perdana Menteri Jepang Naotokan, aktivis Afrika Selatan Graca Machel, dan Kepala Eksekutif (CEO) Unilever Paul Polman.

Sebut saja Negara Liberia salah satu potret kemiskian ekstrem. Sekitar 85 persen dari empat juta penduduk
negeri yang merdeka tahun 1847 itu hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan pendapatan per kapita 260 dollar AS per tahun, Liberia yang subur sebagai negara tropis tergolong negara miskin di dunia.

Kehancuran ekonomi di Liberia terjadi karena kekacauan sosial dan perang saudara dua kali pada dekade tahun 1980-an sampai yahun 2003. Paling tidak 250.000 orang tewas akibat perang itu.

Bahkan negara kita tercinta inipun sedang ingin memasuki krisis ekonomi yang dapat menyebabkan bertambahnya kesenjangan sosial di Indonesia akibat naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sehingga harga kebutuhan pokok juga ikut merambat naik dari pada harga yang semestinya. Janji-janji pemerintah untuk memberikan bantuan kepada rakyat miskinpun tidak dapat menyebar secara merata yang mengakibatkan masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi malah menjadi semakin tersiksa dan merana akibat kenaikkan harga satu bahan pokok saja yaitu BBM.......

Oleh sebab itu bila kita memang terlahir di keluarga yang terbilang berkecukupan janganlah kita sombong akan apa yang kita miliki atau kita dapatkan karena dengan kita menghargai dan bersyukur terhadap apa yang kita punya, kita dapat meresakan apa yang saudara-saudara kita yang kurang mampu rasakan.

Ayo kawan mari kita renungkan apakah kita sudah bersyukur dan lebih menghargai apa yang sudah kita miliki ?????